close

“Lost & Found Bracelet” Gelang Pendeteksi Anak Hilang, Karya Mahasiswa ITB

1554114789
Foto : itb.ac.id

Maraknya kasus penculikan anak menginspirasi tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan gelang pendeteksi anak hilang. Gelang ini mereka namakan “Lost & Found Bracelet”.

Di dalam gelang ini terdapat komponen cip, sim card, dan arduino nano. Berkat teknologi tersebut, gelang yang dipakai anak-anak ini bisa mengirimkan sinyal ke smartphone orang tua mereka sehingga orang tua dapat mendeteksi lokasi keberadaan anak-anak mereka.

Anak muda yang punya ide untuk menciptakan gelang ini adalah Katarina Cynthia Pandji, mahasiswi Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM ITB) angkatan 2018. Untuk menciptakan gelang ini, dia dibantu oleh Gabriel Dicky, mahasiswa Teknik Biomedis ITB angkatan 2015.

Menurut Katarina, sebagaimana dikutip dari laman ITB, awalnya gelang ini dia buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Leadership and Management practice (LMP) yang merupakan salah satu mata kuliah di SBM ITB. Mata kuliah tersebut mengajarkan mahasiswa untuk berpikir kritis dan berinovasi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat.

Fakta lain yang mendorong Katarina untuk membuat alat ini adalah hasil analisis dari komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap berita-berita yang ada di media. Hasil analisis menyebutkan bahwa belakangan ini kasus penculikan anak marak terjadi di Indonesia.

Selain itu, dia juga punya pengalaman pribadi sewaktu yang sangat membekas dalam ingatannya. “Aku pernah punya pengalaman, dulu waktu kecil aku jalan-jalan sama Mama aku di mal. Terus aku hilang dan susah banget dicarinya,” tutur Katrin, sapaan Katarina, saat berbincang dengan kumparanSAINS, Jumat (5/4).

Untuk Penyandang Disabilitas

Yang menarik, gelang ini tak hanya bisa digunakan untuk mendeteksi anak hilang. Gelang ini juga bisa digunakan untuk para penyandang disabilitas. Belum lama ini Katrin bersama Alya Salsabila, mahasiswi Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM ITB) angkatan 2018, serta M. Satryo, mahasiswa Teknik Dirgantara ITB angkatan 2017, berhasil memenangkan kompetisi business plan dengan menawarkan gelang ini sebagai produk inovasi yang bisa dipasarkan.

Dalam kompetisi bisnis bertajuk “Socialpreneur 3.0: Make Business Ideas That can Empower Disabilities” itu, gelang “Lost & Found Bracelet” ini berhasil menyabet juara pertama. Penganugerahan pemenang kompetisi di Unika Atma Jaya Jakarta tersebut telah diselenggarakan pada 14 Maret lalu.

Katrin menceritakan bahwa kompetisi tersebut mengangkat tema pemecahan masalah sosial yang berkaitan dengan disabilitas. Secara khusus, tantangan yang diajukan dalam kompetisi ini adalah bagaimana menciptakan inovasi untuk membantu kaum disabilitas dalam melakukan aktivitas.

Menurut Katrin, produk gelang yang pernah dia buat untuk tugas mata kuliahnya ini relevan untuk diikutkan dalam kompetisi tersebut. Dia mengatakan bahwa gelang ini bisa dipakai oleh semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Pada dasarnya, gelang ini bisa membantu semua anak terutama para anak penyandang disabilitas untuk tetap menghubungkan dan menginformasikan keberadaan mereka kepada keluarga dan/atau kerabat terdekat mereka. Jadi gelang ini nantinya, jika sudah diproduksi secara massal, bisa dipasarkan untuk digunakan oleh anak-anak, terutama anak berkebutuhan khusus.

“Yang pertama itu pasar yang luasnya itu adalah semua anak kecil bisa pakai. Tetapi lebih difokuskan lagi untuk anak penyandang disabilitas. Disabilitas seperti apa? Disabilitas untuk anak berkebutuhan khusus, misalkan dia punya gangguan secara mental seperti down syndrome, autisme, di mana mereka punya keterbatasan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain,” papar Katrin.

Seperti Gelang Lego

Katrin dan timnya telah sukses membuat purwarupa atau prototipe gelang ini serta aplikasi bernama “Lost & Found” untuk dipasang smartphone dan untuk mendeteksi keberadaan pemakai gelang. Biaya untuk membuat prototipe gelang dan aplikasinya ini adalah sekitar Rp 1 juta sampai 2 juta. “Karena kami sempat gagal dan mengganti ulang beberapa komponen untuk membuat prototipe ini,” ujar Katrin.

Prototipe Gelang Pendeteksi Anak HilangPrototipe Gelang Pendeteksi Anak Hilang Foto: Dok. Katarina Cynthia Pandji

Namun begitu, Katrin dan tim menargetkan harga satuan gelang ini tidak akan lebih dari Rp 500 ribu jika nantinya sudah diproduksi secara massal dan dipasarkan.

Aplikasi "Lost & Found" untuk mendeteksi anak hilang.Aplikasi “Lost & Found” untuk mendeteksi anak hilang. Foto: Dok. Katarina Cynthia Pandji

Menurut Katrin, gelang ini bakal didesain dengan ukuran seperti gelang Lego dan menyerupai karakter-karakter kartun yang disukai banyak anak. Selain itu, karena gelang adalah benda yang biasa dipakai anak-anak, Katrin berkeyakinan bahwa orang-orang lain bahkan anak-anak itu sendiri tidak akan sadar “ada sesuatu di dalamnya.”

Prototipe gelang yang telah dibuat Katrin dan timnya ini punya sumber energi dari baterai seperti pada jam tangan. Ada dua jenis baterai yang sebenarnya bisa digunakan, menurut Katrin, yakni baterai lepas-pasang atau baterai yang bisa di-charge seperti pada smartwatch.

“Sementara ini kami sedang memperdalam dulu baterai yang lepas-pasang. Karena untuk baterai yang di-charging, butuh komponen-komponen lain yang lebih kompleks,” ujarnya. Selain itu, harga untuk memproduksi gelang dengan baterai yang bisa di-charge juga lebih mahal.

Yang jelas, saat ini Katrin dan timnya masih terus memperdalam riset demi menciptakan prototipe gelang pendeteksi anak hilang secara lebih sempurna

Sumber : kumparan.com

Leave a Response