close

Musisi Muda Berbakat Khalishah Isyana Gelar Konser Kelulusan “Baca Nada”

DSC_0468
Dok. Pribadi

TANYAAPA.CO, Jakarta – Setelah lima tahun menempuh pendidikan di Daya Indonesia Performing Arts Academy (DIPAA), musisi muda berbakat Khalishah Isyana atau yang biasa dipanggil Nana sukses menggelar sebuah Konser Kelulusan bertajuk “BACA NADA” yang diselenggarakan di Teater Salihara, Kamis, 2 Mei 2019. Bersama ketiga temannya Aloysius Cahyo Pradanto, Cecillia Cati, dan Indra Bayu Rusady, Nana memukau penonton yang hadir dengan penampilan dan kualitas musiknya.

Pada konser tersebut, Nana membawakan empat lagu. Pada lagu “Partita No. 2 in C Minor ‘Capriccio’ “ – J.S. Bach, Nana memainkan piano. Ia juga menyanyi dalam lagu ‘My Foolish Heart’ – Victor Young & Ned Washington. Kemudian berdasarkan aransinya sendiri yang dimainkan oleh Bigband, Nana juga menjadi konduktor pada lagu ‘Pipoca’ – Hermeto Pascoal. Dan karya terakhir yang dibawakannya pada konser kelulusannya adalah ‘Ambilkan Bulan Bu’ – A.T. Mahmud yang Ia persembahkan spesial untuk Ibundanya. Pada lagu tersebut, Nana didampingi adiknya Kalya Vanessa Natania yang turut bernyanyi.

Dunia musik Indonesia patut bangga karna kedatangan lagi Musisi Muda berbakat dengan talenta yang luar biasa.

Nana lahir di Jakarta tahun 1995, Ia mulai mengenal musik pada usia tiga tahun lewat playlist orangtuanya dan memilih piano sebagai instrumen pertamanya pada usia 6 tahun. Nana juga belajar di beberapa sekolah musik seperti PMC dan Purwacaraka Music School, sampai pada akhirnya di tahun 2014 hingga 2019 ia menimba ilmu sekaligus terus mengasah kemampuan bermusiknya di Daya Indonesia Performing Arts Academy (DIPAA).

Belakangan nama Nana mulai didengar pada beberapa project musik di Indonesia. Salah satunya sebagai Music Director, Composer, Arranger, Orchestrator, & Conductor), Pak Pandir Sebuah Muzikal (2018 – Arranger & Orchestrator), dan Dongeng Pohon Impian (2019 – Composer & Conductor). Nana juga menjadi penata musik untuk film pendek fiksi seperti Sebelum Tidur (2017), dan film dokumenter Kakao Kakek Lasah (2018), Mendengar dengan Tahmid (2018), Kita Makan Apa? (2019), Masakan Rumah (2019). Nana baru-baru ini juga menjadi penata musik untuk kampanye iklan #HentikanMinyakSawit (2018) dan #HutanTanpaApi (2019) yang bekerjasama dengan Greenpeace Indonesia.

Kemampuannya sebagai pencipta lagu terus ia asah untuk dirinya sendiri, sekaligus berkolaborasi dengan berbagai solois muda, antara lain lagu Punya Waktu (2018), Makna Hadirmu (2018), dan Mendengar Laut (2019).

Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, ia sudah menjadi nominator AMI Awards 2018 dalam kategori penata musik lagu anak-anak terbaik.

Namun hal itu tak membuatnya merasa cepat puas. Justru setelah lulus dari DIPAA, Nana berencana untuk terus menyebarluaskan ilmu dan kreativitasnya dalam berkarya dengan membangun perusahaan rintisan di bidang kreatif agar dapat terus berkolaborasi dan menjadi manfaat untuk lebih banyak pihak dengan musik yang diciptakannya.

“Di Indonesia ngga semua orang melihat musik sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Aku ingin orang lain lebih menghargai musik dan para musisi layaknya mereka menghargai profesi lain dengan multi disiplin ilmu pengetahuan.” tutupnya.

Leave a Response