close

Ngeri, Jepang Legalkan Embrio Gabungan Sel Manusia Dan Hewan

649fdf52be561e05df3e54r3l-30040
Ilustrasi. Foto : detik.com

Selama bertahun-tahun, ilmuwan dibuat kesulitan dan menghadapi pertentangan ketika melakukan eksperimen pengembangan embrio manusia-hewan. Meski sebelumnya memancing kontroversi, kini eksperimen manusia-hewan telah diizinkan di Jepang dengan syarat cukup ketat.

Banyak negara di dunia yang membatasi dan melarang praktik eksperimen ini karena dianggap tidak etis.

Namun, Jepang berani mengizinkan eksperimen tersebut kepada ilmuwan tertentu.

Seorang ilmuwan sekaligus ahli biologi sel induk, Hiromitsu Nakauchi, sangat senang karena ia termasuk peneliti pertama yang mendapatkan izin dari pemerintah Jepang.

Sejak larangan pada tahun 2014, tidak ada satu peneliti pun yang berani mengembangkan sel embrio manusia-hewan karena sangat terlarang.

Nakauchi telah berpindah dari satu negara ke negara lain dalam mengejar mimpinya.

Salah satu mimpinya adalah pada suatu hari nanti, ilmuwan dapat menumbuhkan organ manusia yang disesuaikan pada hewan seperti tikus,  domba dan babi.

Hanya melalui eksperimen embrio manusia-hewan maka hal tersebut bisa terjadi.

Lebih dari 116 ribu pasien berada dalam daftar tunggu transplantasi di Amerika Serikat.

Nakauchi berharap bahwa suatu saat nanti, ia dan ilmuwan lainnya dapat memecahkan masalah tersebut sehingga dapat mengembangkan organ manusia di dalam tubuh hewan.

Tujuan utama itu masih jauh, namun setidaknya pemberian izin eksperimen ini bisa menjadi lampu hijau dan langkah pertama untuk melakukannya.

Kami tidak berharap untuk membuat organ manusia dalam waktu dekat. Tetapi ini memungkinkan kami untuk membuat penelitian kami lebih maju berdasarkan pengetahuan yang kami peroleh saat ini,” kata Nakauchi dikutip dari Science Alert.

Percobaan Memanusiakan Tikus

Percobaan akan dimulai dengan menyuntikkan sel induk berpotensi majemuk yang diinduksi sel manusia ke dalam embrio tikus dan hewan pengerat lainnya.

Tujuannya agar embrio hewan pengerat menggunakan sel manusia untuk membangun pankreasnya sendiri.

Selama dua tahun, peneliti akan memonitor organ dan otak mereka dalam proses tersebut.

Ujung eksperimen ini memang untuk kepentingan ma­nusia, tapi pada intinya, beberapa ilmuwan dan ahli khawatir jika terlalu banyak sel manusia menyusup ke otak tikus, maka otak tikus itu memi­liki perubahan dalam kemampuan kognitif atau mental dalam beberapa cara, yang akan berimbas pada etika pula.

Parchem menjelaskan, kita tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi. “Sangat tidak mungkin bahwa Anda akan mendapatkan manusia dengan kualitas ‘manusia’. Dengan kata lain, tidak mungkin tikus hibrida memiliki perilaku ma­nusia. Sebaliknya, tikus mung­kin memiliki fitur molekuler tertentu yang mirip manusia,” katanya.

Sebelum ini, ilmuwan sebenarnya telah mengembangkan embrio hibrida seperti embrio babi-manusia dan domba-manusia.

Namun para ilmuwan tersebut belum pernah diizinkan untuk berkembang lebih jauh lagi.

Syarat yang harus dipenuhi dari pemerintah Jepang sangat ketat.

Ilmuwan hanya boleh mengembangkan embrio hanya untuk perawatan pankreas saja.

Jika tim pengawas mendeteksi lebih dari 30 persen otak tikus mengandung sel manusia, maka eksperimen langsung ditutup oleh pemerintah Jepang saat itu juga.

Hal tersebut merupakan syarat agar mencegah hewan yang “dimanusiakan” tidak berkembang lebih lanjut.

Makhluk yang berkembang dari hewan dan penuh dengan sel manusia ditakutkan menjadi mutan yang mungkin berbahaya dan tidak etis untuk dikembangkan.

Pemberian izin eksperimen hibrida manusia-hewan hanya ditujukan untuk kepentingan medis dan diharapkan akan berguna di masa depan.

Sumber : hitechno.com

Leave a Response