close

Siapa

Angkat Kain Nusantara, Sarinah Tampilkan Kain Tenun Maumere

IMG20191030163703

Kain Nusantara yang beragam dan mempunyai kualitas serta keindahan tenun dan warna yang memukau, membuat Sarinah tertarik untuk menggaungkan keindahan kain khas Nusantara. Salah satunya adalah kain tenun khas dari Indonesia Timur, Maumere, selain mempunyai motif dan kualitas yang bagus banyak orang yang belum mengenal keindahan kain tenun tersebut.

 

Lies Permana Lestari, Direktur Ritel Bisnis PT. Sarinah (Persero) ditemui di Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat pada Rabu (30/10/2019) menyatakan kekagumannya terhadap salah satu warisan budaya Nusantara ini. Sebagai pusat bisnis ritel yang ada di Jakarta, Lies mengatakan bahwa pameran kali ini adalah salah satu upaya Sarinah memperkenalkan dan menggaungkan keindahan kain Nusantara khususnya dari Indonesia Timur.

 

“Kita bekerja sama dengan Komunitas Cinta Berkain Indonesia yang concern dengan kain Nusantara. Acara ini memang kita buat untuk menggaungkan kembali kain tenun Maumere yang sangat bagus tapi masih banyak orang yang belum mengenalnya. Padahal kainnya sama bagusnya dengan kain daerah lain. Acara ini sekaligus me-represent bahwa Sarinah mendukung kain Nusantara khususnya Indonesia Timur,” papar Lies kepada awak media.

 

Lies Permana Lestari, Direktur Ritel Bisnis PT. Sarinah (Persero) (Foto: Yulia)

 

Tak tanggung-tanggung, Sarinah bersama dengan Komunitas Cinta Berkain Indonesia membawa salah satu pengrajin tenun langsung dari Maumere yaitu Cletus Beru bersama dengan pengrajin lainnya yang berkumpul dalam sanggar ” Doka Tawa Tana” Maumere. Bahkan Cletus juga membawa, seorang ibu pengrajin tenun yang sudah berusia 70 tahun namun jari jemarinya masih lincah memainkan alat tenun yang dibawa langsung dari Maumere, Nusa Tenggara Timur.

 

Sesekali Mama Martina tersenyum menyapa pengunjung yang mengelilinginya untuk melihat langsung pembuatan tenun Maumere itu sambil tetap fokus menguntai benang demi benang untuk menciptakan pola dari alat yang dia mainkan.

 

“Saya sengaja membawa Mama Martina langsung dari Maumere agar orang yang datang bisa melihat dari dekat bagaimana proses dari kain tenun Maumere,” kata Cletus.

 

Warna warni cantik yang dihasilkan dari kain Maumere dibuat dari bahan alami yang ramah lingkungan. Cletus menceritakan bahwa proses pewarnaan benar-benar diambil dari bahan alami seperti kunyit, daun katuk, daun indigo dan beberapa akar berwarna dari hutan. Selain memastikan kain yang dihadirkan benar-benar dikerjakan dengan tangan, Cletus juga menerangkan bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk kainnya adalah terbuat dari bahan alami.

“Warna biru itu kita pakai daun indigo, hijau ada daun lokal di sana kacang hutan. Itu akar mengkudu buat warna merah,” paparnya.

Mama Martina bersama Lies Permana Lestari memperlihatkan keahliannya dalam membuat kain tenun (Foto:Yulia)

Kletus menjelaskan pembuatan satu kain tenun bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan, hal itu tergantung dari ukuran dan motif dari masing-masing kain. Selain itu, faktor cuaca juga memengaruhi lama tidaknya pengerjaan kain tenun.

Ada sekitar 200 kain yang didatangkan sanggar Cletus. Pengunjung dapat juga memilikinya dengan kisaran harganya mulai dari Rp500 ribu hingga Rp15 juta, tergantung dengan motif dan panjang kainnya.

Acara yang sudah berlangsung selama 10 hari ini akan berakhir pada hari ini, 31 Oktober 2019. Lies juga mengatakan acara ini sekaligus juga Sarinah ingin mengangkat pengrajin-pengrajin dari daerah, karena visi misi Sarinah memang merangkul seluruh pengrajin dari Nusantara.

“Kita memang ingin mengangkat pengrajin seperti ini, apalagi kemarin Mama Martina sempat viral. Selain agar mereka juga tahu pangsa pasarnya seperti apa, mereka juga bisa mengetahui akses pasar. Sarinah ini memang lapaknya, tempat orang-orang yang memang semangat untuk mempertahankan kebudayaan,” tegas Lies.

Terlaksananya pekan budaya kali ini  sesuai dengan visi misi Sarinah yang mengedepankan warisan budaya sekalgus bentuk keberpihakan Sarinah terhadap kain Nusantara khususnya Indonesia Timur. (Yulia)

read more

Saudia Arabia Akan Bangun Museum Nabi Muhammad Di Indonesia

images (12)

Yayasan Museum As-Salamu Alayka Ayyuha An-Nabiyy dari Arab Saudi akan membangun museum nabi Muhammad yang berisikan perjalanan dan sejarah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam di Indonesia.

Museum ini didirikaan sebagai bentuk penguatan kerja sama Negara Arab Saudi dan Indonesia.

Rencana pembangunan museum ini tercetus saat Pimpinan Yayasan Abdullah Nassir menemui Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jakarta, Selasa (31/7/2019).

Menurut Nassir ke depannya, pembangunan museum tersebut dapat meningkatkan toleransi di kalangan masyarakat.

“Museum ini diharapkan dapat diakses tidak hanya oleh masyarakat Muslim Indonesia, tetapi juga masyarakat non-Muslim agar dapat merasakan toleransi dan ajaran Islam yang agung dan mulia,” kata Nassir seusai pertemuan.

Wapres JK mengatakan pemerintah Indonesia menyambut baik rencana pembangunan museum yang telah mendapat dukungan dari Raja Salman dan Putera Mahkota Arab itu.

“Kita setuju karena itu penting sebagai umat Islam untuk melihat sejarah perjalanan hidup Rasulullah dan juga kita akan masukkan perjalanan Islam di Indonesia,” kata Wapres.

Rencananya, museum akan dibangun di komplek Universitas Islam Indonesia Internasional (UIII) yang sedang dibangun.

“Kita akan menyiapkan lahannya supaya juga menjadi bagian dari dakwah, ya sementara ini kita lagi mencari lahan yang cocok,” katanya.

Sumber : indozone.com

read more